Buscar

Páginas

Sebuah Surat Cinta


Tak sengaja, saat ana sedang merapikan buku-buku yang tertata tak beraturan di lemari.. ana menemukan secarik kertas usang, secarik kertas yang memiliki banyak bekas lipatan, namun tulisan-tulisannya masih bisa terbaca dan terlihat jelas.. ana berhenti sejenak, lalu mulai membaca kembali surat itu, yang ternyata ana sadar bahwa itu adalah sebuah Surat Cinta.. yang membuat ana semakin antusias meniti sebuah jalan mulia… kata per kata ana baca dengan perlahan sambil mengingat-ingat kembali ketika ana pertama kali membaca surat itu.. yakni sekitar 1 tahun yang lalu…

“ Assalamu ‘alaykum warohmatullaahi wa barokatuh..
Secarik surat yang kutujukan untuk saudariku yang kucintai dan kusayangi karena Allah…

Ukhtiy, kayfa khaluki? Kayfa khaluk ibadahnya? Kayfa khaluk hatinya? Kayfa khaluk senyumnya? Kayfa khaluk cerianya? Kayfa khaluk tangis yang sering kau lakukan karena Allah? Sungguh, aku mengharapkan kebaikan keadaan dari pertanyaan yang kuhaturkan atau pertanyaan yang masih ada dalam benakku.

Ukhtiy, secarik surat ini kutujukan untukmu…. Dan untukku. Untuk mengingatkanmu kembali akan sedikitnya waktu yang Allah berikan kepada kita. Tentang keadaan kita yang belum juga membaik, dan….. tentang kebanggaan kita hanya karena amalan yang amat sedikit.

Ukhtiy, sungguh aku tahu keadaanmu. Aku tahu kelelahanmu. Aku tahu perasaanmu yang pula ingin beristirahat. Aku tahu bahwa kau pun kadang jenuh. Walau, pengetahuanku hanya sebatas apa yang juga pernah kurasakan.

Tapi, ukhtiy, kulantunkan sebait nasehat singkat ini untukmu. Nasehat yang mungkin takkan asing kau dengar. Nasehat dari saudari yang menyayangimu.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S Al-Hadiid: 20)

Ukhtiy, aku menyayangimu karena Robb yang segala kemuliaan adalah milik-Nya. Aku hanya ingin kembali mengingatkanmu tentang dirimu yang dahulu penuh semangat. Dan kuharap, kini pun kau begitu.

Mana semangatmu yang awal kau koarkan? Mana pikiran cemerlangmu yang dulu kau ungkapkan? Mana kalimatmu yang isinya bahwa kau ‘kan memberikan apa pun untuk agama ini?
Ukh, aku tak butuh jawaban itu hanya terlontar dari mulut mungilmu. Allah pun tak hanya mau mendengar kata-kata indah itu. Tapi, Allah melihat kerja nyatamu. Allah selalu mengawasimu.
Aku tak pernah memaksamu. Allah pun tak pernah memaksamu.

“…..Tidak ada paksaan (memasuki) agama (islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat….” (Q.S Al-Baqarah: 256)

Kau telah memilih sendiri. Kau telah memilih jalan berliku penuh onak dan duri. Kau memilih jalan yang kan membuatmu terluka dan sakit. Kau telah memilih jalan yang selalu membuatmu menangis. Kau memilih jalan yang takkan pernah ada kata mundur.

Karena kau tahu……… balasan dari semua ini…….adalah SURGA.


Untuk semuanya, aku mencintaimu karena Allah. Aku hanya berharap, kita dapat masuk ke jannah-Nya bersama-sama karena saling mencintai karena Allah..

INGATLAH KAU TAK PERNAH SENDIRI….


Saudarimu..

Tetesan air mata yang tidak ana sadari, jatuh membasahi pipi ana.. hati ana bergetar, lisan ana tak mampu mengucapkan apapun pada saat itu… ana sadar Allah sedang mengingatkan ana tentang berbagai keburukan-keburukan ana akhir-akhir ini, melalui surat dari saudari ana yang tak sengaja ana temukan.. ana ingat wajah saudari ana yang begitu mengagumkan itu.. wajah yang sering ana lihat di mesjid sekolah ana, yang sering ana lihat duduk bermajelis, wajah ceria saat sedang menasehati ana yang diiringi senyum tulus.. subhanallah…alhamdulillah, Allah mempertemukan ana dengan saudari ana itu.. atau yang ingin sekali ana panggil dia kakak tersayang, hehe, namun… kakak itu sekarang sudah selesai SMA dan melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah… ana sedih karena ana tak bisa lagi sering bertemu dengan kakak itu… kakak yang mengajarkanku tentang sebuah hidup yang sebenarnya… hidup yang hakiki… kakak yang mengajakku pada sebuah kebenaran yang jelas… ana rindu nasehat-nasehatnya ketika ana datang padanya dalam keadaan menangis.. ana rindu, teramat rindu… saudari ana yang kucintai karena Allah itu… semoga ia selalu terjaga dimanapun ia berada… semoga dakwah selalu menjadi pilihannya dalam keadaan apapun...

Yakni akhwat yang memiliki banyak kesan dalam hati ana…

0 comments:

Post a Comment